UNIVERSITASARMY (18/06/2017). Berbuat baik kepada orang tua adalah suatu kewajiban, demikian Nabi Muhammad menganjurkan kepada umat muslim. Dalam hadist shahih disebutkan seorang pemuda istimewa yang tinggal di Yaman bersama ibunya bernama Uwais Al Qarni. Ia lahir dari keluarga miskin dan menderita sejenis penyakit kulit berupa belang-belang putih di sekujur tubuhnya. Cobaan dari Allah berupa kemiskinan dan penyakit tidak membuat ia lupa pada Allah dan semakin menjadikan hatinya taat dan selalu patuh dan berbakti kepada orang tuanya.

Suatu hari ibunya berkata kepadanya untuk bisa mengerjakan haji karena merasa ajalnya sudah dekat. Permintaan ibunya ini sangatlah berat mengingat perjalanan dari Yaman menuju Mekkah begitu berat. Mereka mesti melalui gurun pasir yang sangat tandus dan mematikan. Sementara Uwais dan ibunya tidak memiliki kendaraan berupa unta ataupun kuda untuk melewati gurun pasir yang ganas. Tentu perlu banyak perbekalan yang mesti dibawa agar mereka tidak mati kelaparan dan kehausan di padang pasir.

Uwais memutar otaknya untuk bisa mencari jalan keluar, agar ia bisa memenuhi permintaan ibunya yang paling disayangi. Akhirnya Uwais membeli seekor anak lembu dan kemudian ia buatkan kandang di atas puncak bukit. Aneh bukan? bukannya membuat kandang di belakang rumah tapi malahan di atas bukit. Setiap hari digendongnya anak sapi itu untuk di bawa ke kandang yang terletak di atas bukit sampai-sampai orang di kampungnya menganggap Uwais sudah sedeng alias gila. Cemohan penduduk kampungnya ini tidak membuat patah semangatnya untuk mengendong anak sapi tersebut setiap hari bolak-balik bukit.

Bertambah hari bertambahlah besar ukuran dan berat sapi itu, demikian juga dengan otot tubuh Uwais yang juga ikut membesar karena mengangkat sapi setiap hari, turun naik bukit. Akhirnya pada bulan ke 8 masuklah musim haji dan dengan tekad bulat Uwais berangkat haji dengan menggendong ibunya menuju Mekah. Tahulah semua tetangganya, ternyata Uwais selama ini menggendong sapi untuk persiapan berlatih menggendong ibunya untuk di bawa ke tanah suci Mekkah untuk berhaji denganberjalan kaki.

Akhirnya pada saat musim haji, Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman menuju Mekkah.  Karena sudah terbiasa menggendong sapi selama 8 bulan tentu, hal ini membuat Uwais cukup kuat untuk menggendong ibunya. Ibu Uwais sampai berlinang air mata melihat anaknya berkorban untuknya, demi memenuhi permintaannya untuk naik haji. Akhirnya dengan susah payah dan perjalanan panjang dan melelahkan, Uwais mampu menggendong ibunya untuk melakukan wukuf di Kabbah. Dengan bercucuran air mata ibunya kemudian bisa melihat langsung Baitullah, ibunya memandang Uwais yang kemudian sedang mengadahkan tangannya untuk berdoa di depan Kabbah.

“Ya Allah, ampunilah semua dosa ibu”, pinta Uwais dalam doanya.

Ibunya kaget dan dengan perasaan terharu dan menangis, bertanya kepada anaknya Uwais. ” Bagaimana dengan dosa mu hai anak ku, apakah engkau tidak meminta ampun kepada Allah?” kata ibunya.

Uwais menjawab dengan senyuman. “Dengan terampunnya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga, cukup ridha dari ibu yang bisa mengantarkan aku ke syurga” kata Uwais.

Ibunya tak sanggup lagi menahan air mata yang jatuh bercucuran, melihat anaknya siap mengorbankan dirinya untuk membahagiakan dirinya. Sungguh beruntung ia memiliki anak yang saleh dan berbakti kepada dirinya yang sudah tua renta. Kemudian seketika itu juga Allah memberikan kuasanya kepada Uwais, segala penyakit supak di tubuhnya sembuh dan hanya disisakan bulatan putih kecil ditengkuknya. Allah sengaja menyisakan agar para Sahabat terutama Sayidina Umar Ra dan Sayidina Ali Ra kemudian sepeninggal Rasulullah akan mampu mengenal sosok Uwais Al Qarni.

Rasulullah pernah bersabda kepada para sahabatnya, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR Bukhari dan Muslim).

Kemudian setelah Uwais berhasil membawa ibunya untuk berhaji, dia mohon pamit kepada ibunya untuk bertemu Rasulullah di Madinah. Ibunya berpesan agar jangan terlalu lama kembali karena usianya yang sudah tua dan sakit-sakitan sangat membutuhkan Uwais. Akhirnya dengan berat hai Uwais meninggalkan ibunya demi untuk bertemu dengan Nabi Muhammad yang selama ini hanya didengar namanya di Yaman bahwa ada seorang Nabi Allah yang tinggal di Madinah.

Kemudian sampailah Uwais di depan rumah Rasulullah. di ketuknya pintu dan diucapkannya lah salam. Sambil mengetuk pintuk Uwais mengucapkan salam “Assalamualaikum wr wb”. Kemudian terdengar suara seorang perempuan mulia menjawab salam, dialah Siti Aisyah Ra. Salah seorang istri Rasulullah yang sangat dicintai oleh nabi. Setelah membukan pintu, siti Aisyah melihat sosok pemuda didepan pintu rumahnya. Pemuda ini tak lain adalah Uwais Al Qarni, namun Siti Aisyah tak mengenalnya. Pemuda ini menanyakan keberadaan Nabi Muhammad, namun di jawab oleh Siti Aisyah bahwa Rasulullah sedang tidak berada di rumah karena sedang ikut berperang. Mendengan jawaban, sedihlah hati Uwais karena tidak bisa bertemu dengan Nabi Muhammad yang sangat dikagumi dan dicintainya. Padahal sudah sangat jauh ia berjalan dari Yaman sampai ke Madinah, namun takdir tidak membawanya untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan Nabi Allah.

Ingin rasanya ia menunggu kepulangan nabi dari medan perang, namun apa daya pesan ibunya agar ia segera kembali selalu terngiang di telinga, ia takut terjadi apa-apa dengan ibunya yang sudah tua dan seorang diri. Akhirnya Uwais pamit kepada Siti Aisyah dan menitipkan salamnya kepada Nabi Muhammad. Akhirnya kembalilah ia ke Yaman tanpa bertemu dengan Rasulullah.

Sepeninggalnya Uwais dari Madinah, akhirnya Nabi Muhammad kembali ke rumahnya dan bertemu Siti Aisyah. Rasulullah bertanya apakah ada seorang pemuda yang mencarinya. Siti Aisyah mengiyakan memang benar ada sorang pemuda yang mencarinya, namun harus segera kembali ke Yaman untuk merawat ibunya.

Nabi pun menceritakan kejadian ini kepada sahabat bahwa ada seorang pemuda yang tidak terkenal di bumi, namun namanya sangat terkenal di langit. Nabi berkata kepada para shabat ” Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.” Kemudian Nabi menoleh pada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi pesan kepada para sahabat untuk dimintakan doa agar diampuni oleh Allah melalui Uwais Al Qarni.

Pesan Nabi Muhammad tentang Uwais Al Qarni selalu diingat oleh Sayidina Umar Ra sampai Sayidina Umar menjadi khalifah, sehingga setiap kafilah yang baru kembali dari Yaman selalu ditanya oleh Umar tentang keberadaan Uwais Al Qarni. Hingga suatu hari Uwais ikut berpergian ke Madinah dengan serombongan Khafilah.

Dari Usair bin Jabir, ia berkata, ‘Umar bin Al Khattab ketika didatangi oleh serombongan pasukan dari Yaman, ia bertanya, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?” Sampai ‘Umar mendatangi ‘Uwais dan bertanya, “Benar engkau adalah Uwais bin ‘Amir?”

Uwais menjawab, “Iya, benar.”

Umar bertanya lagi, “Benar engkau dari Murod, dari Qarn?”

Uwais menjawab, “Iya.”

Umar bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham.”

Uwais menjawab, “Iya.”

Umar bertanya lagi, “Benar engkau punya seorang ibu?”

Uwais menjawab, “Iya.”

ْUmar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya
seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”

Umar pun berkata, “Mintalah pada Allah untuk mengampuniku.” Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan meminta ampunan pada Allah.

Umar pun bertanya pada Uwais, “Engkau hendak ke mana?” Uwais menjawab, “Ke Kufah”.

Umar pun mengatakan pada Uwais, “Bagaimana jika aku menulis surat kepada penanggung jawab di negeri Kufah supaya membantumu?”

Uwais menjawab, “Aku lebih suka menjadi orang yang lemah (miskin).”

Setelah pertemuannya dengan Umar, beberapa tahun kemudian Uwais Al Qarni dipanggil menghadap Allah. berita kematiannya sangat menggemparkan penduduk Yaman. Penduduk Yaman dikejutkan dengan kedatangan orang-oarang yang tak di kenal berebut untuk mengurus jenazah Uwais Al Qarni. Pada saat akan dimandikan dan dikafani begitu banyak orang yang tak dikenal berebutan untuk memandikan dan mengkafani. Demikian juga pada saat mengusung jenazah ramai orang yang berebutan untuk mengusung jenasah Uwais. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman keheranan dengan banyaknya kejadian ganjil ini. banyak diantara mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya Uwais Al Qarni? padahal mereka hanya mengenal Uwais  hanyalah seorang fakir miskin dan lemah yang kesehariannya sebagai pengembala domba dan unta. Tapi, ketika hari wafatnya banyak hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah dikenal.mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Mereka sebenarnya adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya Uwais Al Qarni. Subhanallah begitu mulianya kematian Uwais Al Qarni. Siapa diantara kita yang tidak menginginkan tubuh kita yang sudah membujur kaku untuk diperlakukan mulya oleh para malaikat. Demikianlah keistimewaan Uwais Al Qarni seorang pemuda saleh yang miskin, lemah dan tak dikenal oleh penduduk bumi, namun penduduk langit begitu menghormatinya.

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).

Advertisements